Buruh berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji seiring biaya hidup yang melonjak di Bangladesh, Minggu (1/10/2026) pagi waktu setempat. Sehingga aksi demo ini, menyebabkan 30 pabrik tutup.
Para pekerja menuntut upah minimum bulanan sebesar 30.000 taka (Rp4,3 juta), lebih dari dua kali lipat upah sekarang yang hanya 12.500 taka (Rp1,8 juta). Mereka mengatakan kenaikan biaya makanan, perumahan, transportasi, dan perawatan kesehatan telah mengikis daya beli secara tajam.
Kemudian pada Minggu siang, pemerintah Bangladesh menanggapi demo itu dengan membentuk Dewan Upah guna meninjau gaji minimum pekerja terutmaa garmen.
"Masalah pembentukan dewan upah telah diselesaikan. Tidak akan ada masalah lagi sekarang," kata penasihat Kementerian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan, M Sakhawat Hossain Chowdhury, dikutip Al Jazeera.
"Para pekerja harus kembali bekerja dan bekerja dengan lancar," tambah dia.
Menteri Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan Ariful Haque Chowdhury juga mewanti-wanti bahwa penutupan pabrik yang berkepanjangan dan gangguan produksi bisa menunda pengiriman ekspor dan pembayaran dari pembeli internasional, sehingga menciptakan kesulitan lebih lanjut bagi produsen dan pekerja.
Industri garmen Bangladesh merupakan yang terbesar di dunia setelah China. Sektor ini menyumbang sekitar 20 persen dari produk domestik bruto.
Namun, produsen garmen mengaku tengah menghadapi tantangan termasuk kenaikan biaya produksi hingga kekurangan gas dan listrik secara berkala.
Kembali lagi soal demo, meski ada tanggapan dari otoritas Bangladesh unjuk rasa tetap berlanjut di Ibu Kota Dakha.Polisi lalu melakukan tindak kekerasan dengan melempar granat kejut dan meluncurkan gas air mata untuk membubarkan massa.
"Kami yakin tak ada alasan memblokir jalan dan memicu penderitaan publik setelah dewan upan dibentuk," kata Wakil Kepolisian Daerah Metropolitan Dhaka Mohammad Mohidul Islam, dikutip Daily Star.
Kepolisian juga berusaha menjelaskan ke para demonstran bahwa mungkin ada unsur yang berniat jahat atau kelompok anti negara yang terlibat dan memperburuk ketertiban dan hukum,
Dia lalu berujar, "Karena mereka menolak untuk pergi, kami menggunakan granat suara dan gas air mata untuk membubarkan mereka."
Mohidul memastikan tak ada personel polisi maupun demonstran yang terluka imbas tindakan tersebut. Lalu lintas juga sudah berjalan normal.
Menurut keterangan polisi, demo itu sempat mengganggu lalu lintas di beberapa daerah, termasuk Mirpur-10, Mirpur-11, dan Mirpur-14.
(cnnindonesia/isa/rds)
