Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menang Kembali Pemilu, Lula da Silva Jadi Presiden Brasil untuk 4 Periode

Tuesday, 27 October 2026 | 03:15 WIB Last Updated 2026-10-26T20:18:39Z
Menang Kembali Pemilu, Lula da Silva Jadi Presiden Brasil untuk 4 Periode
Presiden petahanan Brasil Lula da Silva kembali memenangkan pemilu. (Foto: AFP/Mauro Pimentel)

Channelpublik.com - Jakarta | Presiden petahana Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, resmi kembali memenangkan kursi presiden dalam pemilihan umum (Pemilu) pada putaran kedua yang digelar pada Minggu (25/10/2026) waktu setempat.

Otoritas pemilu resmi dari Superior Electoral Court (TSE) mengonfirmasi kemenangan pemimpin sayap kiri berusia 80 tahun ini atas rivalnya dari sayap kanan, Senator Flávio Bolsonaro.

Kemenangan bersejarah ini menjadikan Lula sebagai presiden Brasil pertama yang berhasil terpilih untuk menjabat sebanyak empat periode

Pemimpin sayap kiri tersebut menang tipis dengan perolehan 51,7 persen suara, mengalahkan Flavio Bolsonaro putra dari mantan presiden Jair Bolsonaro yang meraih 48,2 persen suara.

Kemenangan bersejarah ini menjadikan pemimpin sayap kiri berusia 80 tahun itu sebagai presiden Brasil pertama yang terpilih untuk menjabat sebanyak empat kali.

Lula telah memimpin Brasil selama tiga periode yakni Januari 2003 sampai Desember 2006, Januari 2007 sampai Desember 2010, Januari 2023 sampai sekarang.

Hal ini terjadi setelah kampanyenya yang didominasi oleh kekhawatiran masyarakat mengenai biaya hidup, kejahatan, dan korupsi, serta pergeseran politik ke arah kanan di Brasil maupun di seluruh Amerika Latin.

Hasil ini juga menandai pertama kalinya seorang kandidat berhasil memenangkan kursi kepresidenan, setelah menempati posisi kedua di pemilu putaran pertama.

Sejumlah lembaga survei mengatakan jumlah pemilih yang lebih besar telah mendorong kemenangan Lula dalam pemilu.

Selama masa kampanye, dia menunjukkan rekam jejak penurunan kemiskinan dan kesenjangan, sementara pengangguran, angka buta huruf, dan penggundulan hutan mencapai rekor terendah pada masa jabatannya yang ketiga.

Meski demikian pemerintah Lula diperkirakan akan menghadapi hambatan perekonomian, yang diprediksi hanya akan tumbuh sebesar 2,3 persen pada tahun depan.

Selain itu, hambatan ekonomi itu juga menambah kekhawatiran fiskal terkait tingginya suku bunga dan utang publik yang telah meningkat melewati 82 persen PDB, yang merupakan tingkat tertinggi sejak pandemi.

Terpilihnya kembali Lula sebagai presiden juga mengangkat kembali masalah korupsi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kenaikan harga.

Hasil ini juga akan mempunyai dampak di luar Brasil, yaitu menjaga negara terbesar di Amerika Latin ini berada pada jalur kebijakan luar negeri yang lebih independen di bawah kepemimpinan Lula, yang telah menekankan kedaulatan Brasil dan hubungan yang lebih erat dengan negara-negara Selatan dan China, di tengah ketegangan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sebagai salah satu pemimpin tertua di dunia, Lula akan berusia 85 tahun pada akhir masa jabatan barunya pada 2030 nanti. Dengan begitu, Lula akan berkuasa selama total 16 tahun, setelah masa jabatan pertamanya sebagai presiden pada tahun 2003 lalu.

Lula dijadwalkan untuk kembali memimpin sebagai presiden ke-40 Brasil untuk masa jabatan periode 2027–2030.

Detail Jalannya Pemilihan

Berdasarkan data TSE via Reuters, Lula menang tipis dengan meraih 51,79% suara sah (64.256.232 suara) dibandingkan Flávio Bolsonaro yang mengantongi 48,21% suara sah (59.826.041 suara).

Mahkamah Agung (MA) Brasil sempat memperpanjang waktu pencoblosan selama dua jam akibat laporan kendala operasional bus di kota besar seperti São Paulo yang menghambat warga menggunakan hak pilihnya.

Pihak Flávio Bolsonaro (putra mantan presiden Jair Bolsonaro) menyatakan menolak hasil pemilu dan berencana mengajukan gugatan hukum atas kebijakan perpanjangan waktu pemungutan suara nasional tersebut.

Tantangan Pemerintahan Mendatang

Utang publik Brasil telah meningkat melampaui 82% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang diperparah oleh pembengkakan belanja wajib negara dan tingginya beban bunga pinjaman. Pemerintah menghabiskan lebih dari 8% PDB hanya untuk pembayaran bunga utang.

Suku bunga acuan yang tinggi diterapkan untuk meredam inflasi, tetapi kondisi ini membebani keuangan rumah tangga, memperlambat laju pertumbuhan ekonomi, dan membuat pengeluaran negara semakin regresif.

Kongres Brasil (khususnya didominasi oleh kelompok konservatif dan Partai Liberal) menyulitkan Lula untuk mengesahkan agenda reformasi fiskal maupun melakukan pengetatan anggaran secara leluasa. Hal ini berpotensi menyulitkan jalannya agenda ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Setelah hasil pemilu diumumkan, indeks saham melacak Brasil (ETF iShares MSCI) dilaporkan sempat anjlok hampir 20%, mencerminkan respons pasar terhadap arah kebijakan fiskal yang baru.

Kemenangan politik dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal ekspansif ala kubu kiri sempat memicu gejolak serta aksi jual di bursa saham Brasil (Indeks Ibovespa).

Lula terjebak dalam dilema antara menepati janji kampanye untuk program kesejahteraan sosial dan tuntutan pasar serta pengamat ekonomi agar pemerintah melakukan disiplin fiskal serta reformasi pajak yang ketat.
×
Berita Terbaru Update