Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Eropa Memanas! Gelombang Demo Mahasiswa hingga Kerusuhan Guncang 8 Negara

Saturday, 24 October 2026 | 02:05 WIB Last Updated 2026-10-23T19:06:19Z
Eropa Memanas! Gelombang Demo Mahasiswa hingga Kerusuhan Guncang 8 Negara
Seorang pengunjuk rasa yang menyelimuti dirinya dengan bendera nasional Albania tampak mengamati saat massa terlibat bentrokan dengan polisi dalam sebuah aksi protes anti-pemerintah yang digelar oleh para mahasiswa di Tirana, Albania, pada 17 Oktober 2026. (Foto: REUTERS/Florion Goga)

Channelpublik.com - Jakarta | Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa. Situasi memanas ini dipicu beragam persoalan mulai dari anggaran pendidikan, mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, hingga dugaan korupsi.

Dalam perkembangan terbaru, aksi protes mencuat di Jerman dan Austria, sebelum diikuti laporan demonstrasi dan kerusuhan di Prancis, Albania, Italia, Belgia, Portugal, serta Serbia.

Situasi di setiap negara berbeda. Di Jerman, mahasiswa bersiap menggelar aksi menuntut perbaikan pendidikan, sedangkan puluhan ribu orang berunjuk rasa di Austria menentang pemotongan anggaran universitas. Sementara itu, demonstrasi di Albania, Italia, dan Belgia diwarnai bentrokan, sedangkan aksi di Portugal berfokus pada tuntutan ekonomi dan sosial.

Berikut rangkaian aksi demonstrasi di enam negara Eropa tersebut, seperti dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber, Jumat (23/10/2026).

1. Jerman: Mahasiswa Siapkan Demo Nasional

Di Jerman, organisasi mahasiswa dan partai oposisi Die Linke mendukung rencana demonstrasi pada 31 Oktober di berbagai kota. Aksi tersebut menuntut peningkatan pendanaan pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, penambahan jumlah guru, serta ukuran kelas yang lebih kecil. Gerakan pemuda juga mengangkat isu perlindungan iklim, kenaikan biaya hidup, dan penolakan terhadap wajib militer.

Juru bicara Konferensi Mahasiswa Federal, Isabelle Seltenreich, mengatakan para pelajar dan mahasiswa memiliki alasan kuat untuk menyuarakan perbaikan sistem pendidikan. Ia menyebut tuntutan mereka serupa dengan aksi di Prancis dan Italia, termasuk kebutuhan akan infrastruktur sekolah yang lebih baik serta kesempatan pendidikan yang setara.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Jerman memperingatkan potensi meluasnya aksi kekerasan. Menteri Dalam Negeri Baden-Württemberg Manuel Hagel mengatakan terdapat indikasi konkret bahwa demonstrasi dapat meluas ke wilayahnya. Sementara itu, pejabat Bavaria Joachim Herrmann menyatakan akan mengerahkan kekuatan kepolisian untuk mencegah kerusuhan, sembari tetap melindungi hak masyarakat untuk berkumpul secara damai.

2. Austria: Puluhan Ribu Orang Protes Pemotongan Anggaran Pendidikan

Di Austria, sekitar 50.000 orang berunjuk rasa di Wina untuk memprotes anggaran pendidikan yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan universitas. Aksi yang diinisiasi Serikat Mahasiswa Nasional Austria (ÖH) itu diikuti mahasiswa dan staf akademik dari Wina maupun wilayah lain, dengan slogan "Siaga Merah - Selamatkan Universitas!".

ÖH menyatakan pemerintah federal mengalokasikan €16 miliar (Rp322,7 triliun) untuk universitas selama periode 2028-2030, sedangkan Konferensi Universitas memperkirakan setidaknya €18 miliar (Rp363,1 triliun) dibutuhkan hanya untuk mengimbangi inflasi.

Ketua ÖH Viktoria Kudrna memperingatkan pemotongan anggaran dapat mengurangi pilihan program akademik, melemahkan layanan pendukung mahasiswa, dan memperburuk kondisi kerja.

Dampaknya juga mulai dirasakan, termasuk pengurangan jam operasional perpustakaan di Universitas Teknologi Wina. Pihak universitas turut mendukung aksi dengan memberikan izin kepada mahasiswa dan staf untuk berpartisipasi dalam demonstrasi.

3. Albania: Demonstrasi Korupsi Berujung Bentrokan

Perdana Menteri Albania Edi Rama menghadapi tekanan besar setelah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa berlangsung selama enam hari berturut-turut. Para demonstran menuntut pengunduran dirinya, dipicu kemarahan atas dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.

Aksi di ibu kota Tirana dan sejumlah kota lain berubah menjadi bentrokan. Demonstran membakar gedung pemerintah dan bank, memecahkan kaca pertokoan, serta melemparkan batu paving ke arah polisi. Pada Minggu (18/10/2026), aparat membalas lemparan massa dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Rama menolak desakan mundur dan menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan ancaman bagi pemerintahannya, melainkan bagi ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa (UE).

"Yang sedang ditantang bukan saya, bukan pemerintah, bukan mayoritas pemerintah atau partai pemenang pemilu, melainkan sebuah jalan dan sebuah misi," kata Rama melalui Facebook, seperti dikutip Reuters. Kepolisian menyebut 388 orang telah dikenai dakwaan pidana terkait demonstrasi tersebut.

4. Italia: Polisi Hadapi Demonstran, Toko Dijarah

Kerusuhan juga terjadi di Italia ketika demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik meluas ke sejumlah kota. Di Milan, polisi bentrok dengan demonstran yang melempar batu, memecahkan kaca toko, dan membakar tempat sampah di sekitar Piazza Duomo. Aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

Bentrokan serupa dilaporkan terjadi di Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Puluhan orang ditangkap atau dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut, sementara pemerintah menjadwalkan pembahasan mengenai penanganan situasi di tengah persiapan menghadapi pemilu tahun depan.

5. Belgia: Demonstrasi Biaya Hidup Berubah Ricuh

Di Belgia, demonstrasi menentang biaya hidup berujung bentrokan antara massa dan polisi. Aksi berlangsung di Brussel dan Liege pada Sabtu (17/10/2026), ketika aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran. Di kawasan Bourse, Brussel, polisi menembakkan gas air mata setelah sejumlah anak muda melemparkan botol dan benda lainnya ke arah petugas.

Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam kekerasan tersebut. "Ini bukan lagi sekadar demonstrasi," tulisnya di media sosial. Ia menyebutnya sebagai "kekerasan murni yang terorganisasi dan berulang, dengan tujuan mengguncang masyarakat kita," seraya berjanji mengambil langkah untuk memulihkan ketertiban.

Sementara itu, kru Euronews yang meliput demonstrasi di Paris dilaporkan diserang sekelompok orang yang diduga terlibat dalam penjarahan supermarket.

6. Portugal: Warga Turun ke Jalan soal Biaya Hidup dan Perumahan

Di Portugal, demonstrasi berfokus pada tuntutan ekonomi dan sosial. Serikat pekerja yang berafiliasi dengan konfederasi CGTP bersama kelompok pejuang hak perumahan menggelar aksi di Porto, Coimbra, dan Lisbon untuk menuntut kenaikan upah, pensiun yang lebih baik, serta layanan publik yang memadai.

Aksi dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok, bahan bakar, dan perumahan yang semakin sulit dijangkau. Sekretaris Jenderal CGTP Tiago Oliveira menyoroti lonjakan harga rumah dan memburuknya kualitas layanan publik. Para demonstran juga menuntut akses terhadap tempat tinggal yang layak, di tengah kenaikan harga sewa dan beban cicilan rumah yang semakin berat.

7. Prancis: Biaya Hidup dan Pendidikan "Bakar" Negara

Prancis dilanda kerusuhan besar pada 17 Oktober yang menjadi salah satu gejolak perkotaan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Di balik kerusuhan, terdapat kemarahan publik yang dipicu tekanan biaya hidup, kenaikan biaya energi, dan kekhawatiran terhadap memburuknya layanan publik. Situasi tersebut turut memperuncing pertarungan politik di Prancis, dengan pemerintah menuding kelompok kiri radikal sebagai pihak yang mengobarkan kekacauan, sementara gelombang protes juga melibatkan serikat pekerja dan kelompok mahasiswa.

Dampak ketidakpastian turut terasa di pasar keuangan. Premi risiko utang pemerintah Prancis dibandingkan obligasi Jerman dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 15 tahun pada Kamis, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun menyentuh 5,14%, level tertinggi sejak Juli 2002.

8. Serbia: Demo Antipemerintah Dipicu Korupsi

Sekitar 150.000 pendukung gerakan mahasiswa oposisi Serbia memadati pusat Kota Beograd pada Kamis (22/10/2026), mendesak berakhirnya kekuasaan Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan Aleksandar Vucic. Gerakan bernama Student List itu mengusung kandidat-kandidat yang didukung mahasiswa untuk menantang partai berhaluan populis sayap kanan tersebut dalam pemilihan parlemen pada Minggu.

Gelombang protes mahasiswa telah berlangsung hampir dua tahun, dipicu runtuhnya kanopi di stasiun kereta Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Tragedi yang banyak dikaitkan dengan korupsi itu memicu demonstrasi besar dan berkembang dari tuntutan penyelidikan transparan menjadi desakan pemilu dini.

Vucic, yang mendominasi politik Serbia selama lebih dari satu dekade, mengumumkan pemilu dini pada September di tengah tekanan yang meningkat. Ia menuding gerakan mahasiswa sebagai upaya kudeta yang didanai pihak asing.

(tfa/luccnbcindonesia)
×
Berita Terbaru Update