"Diperkirakan 60.000 anak di Gaza telah menyaksikan salah satu atau kedua orang tua mereka tewas selama perang, atau sejak gencatan senjata," demikian pernyataan UNICEF.
UNICEF mencatat lebih dari setahun sejak gencatan senjata diumumkan lebih dari 340 anak tewas dan ratusan lainnya terluka.
Menurutnya, sekitar 800.000 anak masih mengungsi, dengan mayoritas tinggal di tenda-tenda atau di bangunan yang rusak akibat pengeboman.
UNICEF menilai bahwa kebutuhan kemanusiaan di wilayah tersebut masih sangat besar, sementara dana yang tersedia tidak mencukupi.
UNICEF telah meminta para pihak berkonflik untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata, menaati ketentuan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, serta memenuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional.
Pada Oktober 2023, konflik Israel-Palestina bergejolak ketika Israel menghadapi serangan besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Jalur Gaza. Menyusul peristiwa tersebut, militer Israel melancarkan operasi darat yang menyebabkan Jalur Gaza nyaris luluh lantak.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, tetapi militer Israel terus menggempur wilayah Palestina tersebut, serta mengeklaim tanpa ada bukti yang kuat bahwa target para pasukan Zionis itu adalah fasilitas dan anggota kelompok Hamas.
PBB menilai bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat memprihatinkan, ditandai dengan kehancuran yang meluas, gangguan pada fasilitas medis, dan tantangan yang terus menghalangi penyediaan makanan dan kebutuhan pokok bagi warga setempat.
Diketahui, saat ini situasi di jalur Gaza, Palestina, pada Oktober 2026 masih diwarnai oleh ketegangan militer dan krisis kemanusiaan yang berlanjut meskipun ada upaya kesepakatan gencatan senjata.
Pasukan Israel dilaporkan masih melakukan tembakan artileri, serangan pesawat tak berawak (drone), serta pemboman di sejumlah titik di Kota Gaza, Khan Younis, dan Rafah yang menewaskan serta melukai warga sipil Palestina.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak Oktober 2023 konflik ini telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang, dengan kerusakan infrastruktur sipil mencapai sekitar 90 persen.
Warga Gaza menghadapi krisis pendanaan dan pemangkasan bantuan pangan, termasuk langkah Program Pangan Dunia (WFP) PBB yang harus memangkas bantuan untuk ratusan ribu warga, serta pembatasan arus barang komersial masuk oleh Israel.
Selain Gaza, situasi di Tepi Barat juga memanas dengan peningkatan kekerasan oleh pemukim Israel dan operasi militer yang memicu risiko perluasan konflik.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
